Press Release

Ciptakan Desain Taman Anak di Kawasan Eks-Dolly

6 April 2016

Masih teringat jelas pada bulan Juni 2014 yang lalu, saat Walikota Surabaya-Tri Rismaharini membongkar lokasi prostitusi terbesar se-Asia Tenggara. Ya, gang Dolly telah diresmi tutup hampir dua tahun tapi bagaimana dengan kawasan itu saat ini? Itulah yang dipikirkan oleh tiga mahasiswa Program Studi Arsitektur Universitas Kristen Petra (UK Petra) dan kemudian tertuang dalam ide membuat desain bertajuk Taman Kumpul Bocah Ex-Dolly pada kompetisi Architecture Festival yang bertemakan “Arch-KID-tecture” (ruang ramah anak) yang diselenggarakan oleh Himpunan Mahasiswa Arsitektur UK Petra pada tanggal 19 Maret 2016 yang lalu di Universitas Kristen Petra.

Kompetisi tingkat Perguruan Tinggi yang mengambil tema sejalan dengan kebijakan pemerintah untuk membangun kota layak anak ini berhasil menjaring 210 tim yang berasal dari 12 Provinsi berbeda di Indonesia dan 1 tim dari Australia. Menghadirkan tiga juri yaitu Ir. Hari Sunarko selaku Ketua IAI (Ikatan Arsitek Indonesia) Jawa Timur, Sarah Ginting dari SAGI Architect dan Christine Wonoseputro, S.T., M.A.S.D yang merupakan dosen Arsitektur UK Petra.

Ialah Dharma Wijaya, Regina dan Thomas Julian Ongo yang berhasil membawa pulang plakat beserta hadiah uang tunai sebesar Rp. 9.000.000 sebagai juara pertama dalam lomba tersebut. “Puji Tuhan. Kami tidak menyangka akan menjadi juara dalam kompetisi ini, saingan kami sangat banyak dan bagus desainnya. Kami mendesain sebuah taman bermain di kawasan Ex-Dolly dan fokus pengguna kepada anak-anak korban lokalisasi”, ungkap Dharma di kantor Humas UK Petra beberapa saat yang lalu. Ketiganya yang merupakan mahasiswa Program Studi Arsitektur UK Petra semester 6 ini sebelum merancang desain tersebut juga melakukan survey lokasi terlebih dahulu sehingga desain ini sesuai dengan kebutuhan penggunanya. “Kekuatan konsep desain kami ini terletak pada konsep tanam yang rendah hati, konstektual, hutan bamboo, menumbuhkan jiwa eksploratif anak dan mencangkup 4 panca indera pada anak (penciuman, pendengaran, peraba dan pengelihatan)”, urai Thomas lebih lanjut. Lokasi taman bermain ini dekat dengan pusat keramaian yaitu pasar, SMP Banyu Urip, SDN Banyu Urip, TK Kartini dan SMA Banyu Urip sehingga mudah diakses oleh anak-anak. “Keberadaan bangunan ini rencananya tidak akan menganggu kawasan pemukiman sekitarnya sekaligus dapat mewadahi kegiatan masyarakat setempat seperti belajar mengajar, pertunjukan tradisional, sepak bola dan pasar. Tujuannya untuk mengalihkan fokus anak, mengubah image Dolly serta mendukung visi misi pemerintah kota Surabaya”, tambah Dharma. Bangunan dua lantai ini sangat unik, konsepnya terbuka (transparan) sehingga memudahkan pengawasan anak dan menghindari adanya perilaku negatif. Berbahan sangat sederhana, tercermin dalam bahan dasarnya yaitu menggunakan bamboo, kayu, batu paring, grassblock  dan beton.

Informasi lebih lanjut hubungi :

  • Humas & Informasi Studi

Jl. Siwalankerto 121-131, Surabaya

Telp : (031) 2983190-3194

  • Dharma Wijaya (085707663838), Thomas Julian Ongo (081945151553), Regina

Maket Pemenang juara 1